Pelepasan merpati sekaligus tanda penutup KUPI oleh Menag Drs. KH Lukman Saifuddin, Pengasuh PP Kebon Jambu Al Islamy Nyai Hj. Mariyah Amva bersama para panitia, relawan dan disaksikan oleh seluruh peserta. (27/4), (foto/zen)

Perhelatan Akbar berskala dunia, KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), telah usai. Tirai panggung nan megah telah diturunkan. Manakala burung dara dilepas ke udara satu-satu di bawah komando Menteri Agama Lukman Saifudin, dan lagu “Padamu Negeri” bergema dan gemuruh indah, semua hadirin terpukau, histeris, tersedu sedan dan berpelukan dalam suasana hati yang mengharu biru, penuh bahagia. Aku melihat teman-teman yang duduk di belakang kursiku. Wajah mereka berderai-derai, meneteskan air bening hangat satu-satu pada pipi ranum mereka. Dan wajah-wajah itu memancarkan cahaya. Zainah Anwar, aktifis terkemuka dari Malaysia, terus bertepuk tangan sambil tertawa bahagia. “Ini wonderful. Realy Smart”.

Di sudut lain, aku melihat sejumlah perempuan ulama dan aktivis itu saling berpelukan dengan mata basah, lalu secara reflektif saja memeluk sang komandan: Faqihuddin Abdul Kodir.

Aku masih berdiri di samping Ny. Masriyah​, perempuan pemimpin pesantren. Aku menatapnya dan mengucapkan : “Selamat Sukses luar biasa, peristiwa dunia yang memesona, menakjubkan dan ajaib. Ulama Perempuan “Bangkit dari terpuruk”, “Menggapai Impian”. Terimakasih”.

Pak Menteri masih berdiri melayani puluhan wartawan. Aku di sampingnya. Begitu selesai dia ingin pamit kepada teman karib sekaligus seniornya : K.H. Helmy Ali. Tetapi tak jadi. Waktu telah sore. Dia bergegas menuju sedan yang sudah lama menunggu, lalu masuk. Para santri berebut menyalami beliau, meski jendela mobil telah menyempit.

Aku kembali ke tempat semula untuk menemui dua orang kiyai guna menyampaikan terima kasih. Mereka bilang : “Hebat!, Mabruk”, sambil mengacungkan jempolnya. “Anda di belakang sukses ini”, kata mereka, memujiku. Aku segera bilang : “tidak, ini adalah hasil kerjasama panitia dan semua orang yang mencintai Keadilan. Mereka bekerja dengan seluruh cinta”.
Aku segera menulis di timeline FB ku : “Saat hati kita menginginkan dan memikirkan sukses, maka sukses itu menjadi nyata”.

Aku sudah lama menyimpan kagum pada banyak sekali teman. Aku menulis di catatanku : “Tak habis2nya aku mengagumi tokoh-tokoh perempuan ini : Nyai Masriah Amva, mbak Badriyah Fayyumi, mbak Ninik Rahayu, mbak Nur Rofiah, mbak Neng Dara, mbak Nana Kamala, mbak Dani, mbak Rubi, mbak Tati Krisnawati, mbak Masruha, Alif, Rozikoh, dll. Dan tentu saja teman-teman laki-laki : Faqihuddin, Marzuki Wahid, Rosidin, dan terlampau banyak jika harus disebut. Mohon maaf. Salam hormat untuk mereka semua”.

KETIKA “BURUNG” DILEPAS

Menjelang burung-burung dara dilepas, mataku terus menatap panggung bersahaja tetapi begitu anggun. Di sana aku melihat banyak ulama Perempuan berdiri berjejer dengan wajah sumringah. Mereka baru saja mengambil tugas penting : membaca Ikrar, membaca hasil-hasil Musyawarah. Mereka tampak bangga menjadi bagian dalam momen sejarah dunia, yang mungkin tak akan terulang lagi. Boleh jadi mereka akan mengenangnya sampai akhir. Sebuah kenangan yang indah dan tak akan terlupakan.

Di depan mereka berdiri empat orang terkemuka Indonesia : Menteri Agama Lukman Saifuddin, berbaju warna ungu, ketua DPD yang cantik nan anggun, mengenakan baju warna putih semu ungu, Ninik Rahayu, sekjen KUPI yang jelita dan lincah luar biasa dan Badriah Fayumi, ketua SC yang ayu dan lembut. Keduanya mengenakan baju seragam (pembagian panitia?), warna hitam bergaris Mega mendung.

Mereka berdua mendampingi Pa Menteri Agama dan Ibu Kanjeng Ratu Hemas yang akan melakukan sesuatu. Aku menatap pemandangan yang indah di atas panggung itu. Mataku tak berkedip. Tiba-tiba MC mengatakan : “Kepada yang terhormat bapak menteri Agama diminta untuk melepaskan “Burung” nya. Dan meledak lah tawa hadirin. Ha ha ha. Kedua orang petinggi di negeri ini tersipu-sipu. Aku juga tersenyum saja. Kata “Burung” telah membentuk pikiran publik dan mengarahkannya ke “sesuatu”. Semua orang mafhum makna “sesuatu’ itu. Teman di sebelah aku bergumam :”maklum sudah tiga hari meninggalkan rumah. Pikirannya ke sana. Ngeres”. He he he

Pelepasan Burung Dara usai kata penutup oleh menteri Agama itu, sungguh mengagetkanku. Aku tak mendengar rencana cerdas ini. “Ini gagasan genius dan “gila”, kataku dalam hati. Biasanya aku mendengar atau dikabari teman utk banyak hal. Siapakah dia yang punya ide cemerlang ini?. Aku menduga-duga dalam hati. Ini : mbak Tati Krisnawati. Aku mengenalnya lama dan bertahun. Aku bertanya kepada teman-teman, melalui WA. Ada yang menyebut nama seperti yg aku duga itu. Lagi-lagi menakjubkan. Dan mataku kembali berderai-derai.

Cirebon, 030517
KH. Husein Muhammad

Comments

comments