Tema besar Kongres Ulama Perempuan ini adalah “Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan”. Tema umum ini diturunkan dalam beberapa kegiatan berikut ini:

Kompetisi Penulisan Profil Ulama Perempuan Sementara ini baru ada dua buku tentang profil ulama perempuan Indonesia, buku terbitan PPIM (2000) dan terbitan Rahima (2012). Merespon kelangkaan buku-buku tentang profil ulama perempuan Indonesia, KUPI menggagas kompetisi penulisan profil ulama perempuan. Kompetisi ini, yang dibuka pada 1 Mei-31 Agustus 2016, adalah kegiatan pendukung bagikegiatan kongres. Kegiatan ini telah selesai dilaksanakan dan hasilnya telah dimumkan pada bulan Desember 2016. Hasil dari kompetisi ini akan diterbitkan menjadi buku dan akan dilaunching dalam kegiatan kongres di Pondok Pesantren Kebon Jambu.

Untuk info lebih lanjut silahkan klik di sini dan di sini.

Untuk mendukung kongres, beberapa workshop dan halaqah juga diadakan pada rentang Nopember 2016 sampai Maret 2017.

Kegiatan workshop pra-kongres dimaksudkan untuk identifikasi isu-isu yang berkembang di lokal masing-masing terkait keulamaan perempuan dan peran mereka dalam meneguhkan nilai-niali kemanusiaan.

Kegiatan ini sekaligus sebagai identifikasi peserta Kongres yang bisa mewakili daerah-daerah Indonesia di tiga wilayah, timur, tengah, dan barat. Sementara halaqa pra-kongres diadakan untuk merumuskan metode ijtihad dengan perspektif perempuan untuk isu-isu kontemporer Indonesia. Jika workshop diadakan di tiga lokasi yang merpresentasikan tiga wilayah Indonesia, Timur (Makasar), Tengah (Yogyakarta), dan Barat (Padang), Halaqah diadakan di sebuah pesantren di Jakarta.

Seminar ini akan menghadirkan beberapa narasumber dari 7 negara Muslim. Yaitu Pakistan (Mosarrat Qadeem), Afghanistan (Roya Rahmani), Malaysia (Zaenah Anwar), Saudi Arabia (Hatoon al-Fasi), Kenya (Ulfat Hussein Masibo), Nigeria (Rafatu Abdul Hamid), dan  Indonesia (Ruhaini Dzuhayatin, Eka Srimulyani, dan Kamaruddin Amin). Ia akan dihadiri para peserta dari berbagai negara dengan jumlah 200 orang. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai aprersiasi pada ulama perempuan dunia, legitimasi bagi peran-peran mereka, dan identifikasi pembelajaran dari berbagai negara Islam lain mengenai isu-isu keislaman, hak-hak perempuan, persoalan kekerasan, radikalisme, dan perdamaian dunia. Kegiatan ini secara khusus diperuntukkan bagi ulama perempuan, para aktivis pemberdayaan perempuan, akademisi, pakar, peneliti, dan khalayak umum yang memiliki perhatian pada isu-isu keislaman dan perempuan di tingkat dunia.

Kegiatan ini akan dilaksanakan sebagai bentuk kerjasama antara KUPI, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dan AMAN Indonesia. Kegiatan ini bertempat di kampus IAIN Syekh Nurjati, Jl. By Pass Kota Cirebon. Output dari seminar ini adalah poin-poin pembelajaran dari dunia muslim mengenai ulama perempuan, keadilan gender, dan perdamaian dunia. Poin-poin ini diharapkan bisa memberi inspirasi bagi proses-proses diskusi, musyawarah fatwa, dan rumusan rekomendasi KUPI.

Informasi lengkap klik di sini

Seminar Nasional akan diadakan pada hari ke-2 Kongres di Pondok Pesantren Kebon Jambu. Seminar ini akan mendiskusikan peran, tantangan, dan strategi ulama perempuan dalam menjawab isu-isu kontemporer di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan overview dan kerangka berpikir tentang konsep keulamaan perempuan dalam perspektif KUPI. Ini merupakan penajaman perspektif dan pengetahuan untuk isu-isu yang sudah dikembangkan saat workshop Pra-Kongres dengan melakukan Roadshow di Indonesia Barat, Tengah dan Timur.

Kegiatan ini akan diikuti seluruh peserta Kongres yang berjumlah 700 orang. Yang akan menjadi narasumber dalam seminar ini adalah KH Husein Muhammad (Ketua Yayasan Fahmina Cirebon), Dr. Nurrofi’ah (Dosen Paskasarjana PTIQ Jakarta, Pengurus Alimat dan Rahima), Drs. Hj. Badriyah Fayyumi, Lc. MA (Pengasuh Pesantren Mahasina Bekasi), dan Prof. Dr. Machasin (Gurus Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Para narasumber dalam seminar ini akan membedah dan mendiskusikan keulamaan perempuan dari perspektif sejarah, sosial-politik-budaya, dan hambatan serta tantangan nyata di lapangan. Yaitu konteks masyarakat Indonesia saat ini.

Setelah Seminar Nasional, seluruh peserta akan membagi diri dalam kelompok-kelompok diskusi paralel yang diadakan secara bersamaan sesuai minat masing-masing. Diskusi paralel ini bertujuan untuk mendalami wacana dan pengalaman ulama perempuan dalam kerja-kerja yang lebih spesifik dan dalam konteks Indonesia kontemporer.

Diskusi ini sebagai ajang tukar pendapat, pengetahuan dan pengalaman para peserta terhadap gagasan-gagasan dasar dari Seminar Nasional, melalui isu-isu kongkrit dalam k ehidupan keseharian perempuan. Bertempat di ruang-ruang aula/kelas besar Pesantren, diskusi akan mendalami sembilan tema berikut ini:

1. Tantangan dan Peluang Pendidikan keulamaan perempuan di Indonesia

 Narasumber: Tokoh Pendidikan Madrasah NU Banat Kudus (Hj. Noor Laila, M.Pd.I), Direktur STIT, Diniyyah Puteri, Padang Panjang (Laili Ramadani, SPdi, MA), dan Direktur Perhimpunan Rahima (AD Eridani). Moderator: Septi Gumiandari

2. Respon Pesantren terhadap Keulamaan Perempuan (Pengalaman Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon)

 Narasumber: Para pengasuh dan ustadzah PP Babakan Ciwaringin Cirebon (Dr. Neng Khozanah, Dra. Hj. Umamatul Khaeriyah, M.Ag, dan Ny. Hj. Royanah Ahal), dan Alumni Pesantren Babakan, Wakil Rektor UIN Suka Yogyakarta (Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA). Moderator: Dr. Suwendi

3. Penghentian kekerasan seksual dalam perspektif ulama perempuan

 Naraumber: Aktivis dari Rifka An-Nisa (Saeroni), Praktisi dan dosen ilmu Hukum di UGM Yogyakarta (Sri Wiyanti Eddyono, SH, LLM, PhD), ulama pesantren dan anggota komisioner Komnas Perempuan (Imam Nakhoi), Komisioner ORI (Ninik Rahayu, SH. M.S.), dan aktivis dari Forum Pengada Layanan (Dian Puspitasari). Moderator: Samsidar

4. Perlindungan anak dari pernikahan dalam perspektif ulama perempuan

 Narasumber: Peneliti isu-isu perempuan di Indonesia dari Australia (Prof Kathryn Robinson), peneliti Insist dan Rumah Kitab (Nurhady Sirimorok MA), aktivis, peneliti, dan pendamping dari Rumah Kitab (Lies Marcoes MA), ulama-ulama pesantren pengkaji isu pernikahan anak (Kyai Mukti Ali, Gus Jamaluddin Muhammad, Roland Gunawan, dan Ahmad Hilmi). Moderator: Nurasiah Jamil

5. Perlindungan buruh migran dalam perspektif ulama perempuan;

Narasumber: Komisioner Komnas Perempuan (Yuniyanti Chuzaifah), Ketua bidang Riset dan Kajian Migrasi (Anis Hidayah), Ketua BNP2TKI (Nusron Wahid), dan ulama perempuan/komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (Maria Ulfah Anshor). Moderator: Wiharti

6. Pembangunan berkeadilan berbasis desa dalam perspektif ulama perempuan

 Narasumber: Pengurus Federasi Serikat Pekka (Peny Yuliarti); KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat & Pelayanan untuk Kesejahteraan: Ratna Fitriani); Sekjen Kementrian Desa (dalam konfirmasi); Ulama pemerhati isu-isu pemberdayaan perempuan dari Yayasan Fahmina (Faqihuddin Abdul Kodir). Moderator: Nani Zulminarni

7. Peran perempuan dalam menghadapi radikalisme agama, meneguhkan nilai kebangsaan dan mewujudkan perdamaian dunia;

Narasumber: Ulama pesantren dan aktivis perdamaian dan keadilan gender (KH. Husein Muhammad), Peneliti PRIK-UI (Any Rufaidah), perempuan jihadis, dan peneliti UN Women (Romatio Wulan). Moderator: Ruby Khalifah

8. Peran, tantangan dan strategi ulama perempuan dalam menjawab krisis dan konflik kemanusiaan.

Narasumber: Aktivis dan mantan Komisioner Komnas Perempuan (Andy Yentriyani), Dosen UIN Jakarta dan Wakil Dekan FKIP UHAMKA Jakarta (Dr. Izza Rahman Nachrowi, MA.), dan aktivis dan Ketua Harian Institut Kapal Perempuan (Missiyah). Moderator: AD Kusumaningtyas

9. Peran ulama perempuan dalam penyelesaian ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.

Narasumber: Aktivis dan Pengasuh Pesantren Ekologi ath-Thariq Garut (Ny. Hj. Nissa Wargadipura), aktivis dan peneliti lingkungan dari Sajogyo Institute Bogor (Siti Maimunah), Aktivis Lingkungan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara/AMAN (Mia Siscawati), dan pemerhati isu keislaman dan lingkungan dari Lakpesdam PBNU (Ny. Hj. Ala’i Nadjib, M.Ag). Moderator: Marzuki Wahid.

Fatwa keagamaan mengenai isu-isu yang didiskusikan pada workshop dan halaqah pra-kongres, juga pada diskusi paralal, akan diputuskan pada Musyawarah Fatwa di hari ke-3 Kongres.

Sidang ini akan diikuti para peserta yang memiliki keahlian keislaman dan narasumber terkait isu-isu yang akan diputuskan. Mereka akan duduk melakukan finalisasi hasil rumusan kegiatan pra-kongres dan diskusi paralel.

Rumusan metodologi dari halaqah pra-kongres akan digunakan untuk menjawab isu-isu kontemporer Indonesia, terutama kekerasan seksual, pernikahan anak, dan pembangunan berkeadilan.

Untuk kali ini, hanya tiga tema yang dibahas, yaitu kekerasan seksual, perkawinan anak, kekerasan seksual, dan perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial. Musyawarah akan dibagi dalam tiga kelas:

  1. Musyawarah Keagamaan tentang Kekerasan Seksual, akan dikelola oleh: Afwah Mumtazah, Ninik Rahayu, Imam Nakhoi, Umdah El Baroroh, Ruqayyah Maksum, dan Neng Hanna.
  2. Musyawarah Keagamaan tentang Perkawinan Anak akan dikelola oleh Maria Ulfah Anshor, Mariam Abdullah, Emma Marhumah, Rita Pranawati, Mukti Ali, dan Yuli Muthmainnah.
  3. Musyawarah Keagamaan tentang Kerusakan Alam dalam Konteks Ketimpangan Sosial akan dikelola oleh Neng Dara Affiah, Atiyatul Ulya, Khotimatul Husna, Helmi Ali, Marzuki Wahid, dan Alai Nadjib.

Peserta yang tidak mengikuti Musyawarah Fatwa, di hari ke-3, akan dibuka forum panel launching dan diskusi buku-buku keulamaan perempuan. Yaitu buku hasil kompetisi penulisan keulamaan perempuan, dan dan karya-karya lain terkait keulamaan perempuan Indonesia.

Peluncuran dan diskusi buku ini, merupakan salah satu ajang untuk membangun dan berbagi pengetahuan (knowledge building and knowledge sharing) tentang potret riil ulama perempuan dan apa yang mereka lakukan di tengah komunitas dan umatnya. Acara ini akan diawali dengan penyerahan secara simbolis buku yang diterbitkan kepada 10 orang ulama perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk para penulis/kontributor buku maupun tokoh-tokoh yang ditulisnya.

 

Ada peluncuran 2  Buku “Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan” (Terbitan Rahima dan KUPI 2017) dan “”Dari Inspirasi Menjadi Harapan : Perempuan Muslim Indonesia dan Harapannya kepada Islam yang Pluralis dan Damai ” (LBH Apik, 2014).

 

Narasumber: KH.Helmy Ali Yafie (ulama dan aktivis dari Makasar), Prof.Dr.Nurjannah Ismail (Guru Besar UIN Ar-Raniri Aceh), Ratna Batara Munti (Aktivis dari LBH Apik dan Penulis Buku kedua; dan Nyai Hj.Ruqayyah Ma’shum (Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Bondowoso)

Moderator : Farha Ciciek.

 

Selesai launching buku, dilanjutkan dengan Peluncuran Media Sosial Keulamaaan Perempuan (Website KUPI dan Media Mubadalah).

 

Narasumber: Maemunah Mujahid (aktivis Bait al-Hikmah) Ruby Khalifah (Country Representative Aman Indonesia)

Moderator:  Yuli Muthmainnah

Kegiatan ini akan dilakukan setelah selesai launching dan diskusi buku, di hari ke-3 kongres, diikuti seluruh peserta. Diskusi akan dipandu oleh sutradara film dokumenter “Nyai Masriyah Amva” dari Malaysia, Yati Kafrawi. Film ini sudah diputar di jaringan televisi Jepang (NHK) dan didiskusikan di berbagai perguruan tinggi Malaysia.

Beberapa hari menjelang kongres dan pada saat kongres, di Pondok Pesantren Kebon Jambu, akan diadakan beberapa kegiatan sosial; yaitu konsultasi dan pengobatan gratis, sunatan masal, test papsmear/iva, dan donor darah.